ECONOMICAL CRISIS AND DILEMATIC CHOICE

ECONOMICAL CRISIS AND DILEMATIC CHOICE[i]

Oleh; Zainul Ahwan Assgia Shobry

Presiden Mahasiswa

When globalitation was become new ideology and life paradigm. Capitalism has become real thing happening. Consumption culture as the com

mon of set tarand nowdays. And be sure, social cognition stucture filled by economical capitalism virus. And when comercial motive become primare variable of expressivness. All everything appre

ciated just was comodity, by the reason of economical stability.

Pontang-panting perekonomian negara du

nia ketiga (left behind state) kini semakin menunjukkan bentuk terparahnya. Berbagai upaya preventif telah dilakukan mulai dari meminjam dana moneter yang di iming-imingkan badan moneter international IMF,

World Bank dan lain sebagainya. Namun ironisnya mengapa negara dunia ketiga malah jatuh pada lobang berkelok yang absurd ?

Indonesia adalah salah satu negara du

nia ke-tiga yang dililit oleh kekurangan gizi, SDM rendah, pengangguran tinggi, kriminalitas prostitusi dan banyak lagi permasalahan yang di sebabkan oleh krisis ekonomi. Kondisi inilah yang memaksa negar

a kita untuk memilih berbagai alternatif pilihan preventif yang amat pahit dan dilematis dalam mengatasi kemelut ekonomi yang kian menggila.

Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah dalam mengatasi keterpurukan ekonomi adalah dengan mengoptimalisasikan peran sektor pariwisata. Lan

gkah yang ditempuh pemerintah untuk mengoptimalkan penerimaan disektor pariwisata memang cukup bisa dipahami mengingat restrukturisasi di sektor per-bankan yang sangat penting bagi bangkitnya sektor riil perekonomian belum menunjukkan hasil yanmg menggembirakan. Sehingga pilihan mengoptimalkan

sektor pariwisata menjadi opsi terbaik saat ini dalam mengatasi kebuntuan ekonomi. Dengan mengembangkan sektor ini, maka pemerintah telah melakukan apa yang disebut dalam terminologi ekonomi sebagai “in

visible export” yaitu ekspor yang tidal kentara atas barang-barang dan jasa-jasa pelayanan.

Maka untuk mengembangkan sektor ini, perlu dikaji lebih mendalam mata rantai yang terkait didalamnya, mulai kegiatan biro perjalanan, restoran, kegiat

an guiden, kerajinan rakyat dan kesenian daerah. Dalam konteks ini kesenian lokal seperti berbagai jenis tari-tarian, digunakan sebagai megnet untuk menarik wisatawan asing. Melihat panjangnya mata rantai yang dikaji dalam pengembangan sektor pariwisata, nampak bahwa pengembangan sektor ini dapat menggerakkan sektor-sektor ekonomi dengan jangkauan yang amat luas. Artinya tenaga yang t

erserap dalam penegembangan sektor ini sangat besar jumlahnya. Tetapi pengembangan sektor periwisata dengan memanfaatkan kesenian lokal sebagai obyek yang dikomersialisasikan ini ternyata menimbulkan

dampak yang serius bagi eksistensi seni lokal itu sendiri. Kesenian tradisional daerah yang semula diekspresikan karena motif tradisi atau spiritual dalam dalam kebudayaan masyarakat sebagai tendensinya. Menjadi terlepas dari motivasi asli. Fenomena ini menjadi konsekuensi logis dari adanya motivasi baru

ya

itu motivasi yang bersifat komersial. Penghayatan yang mendalam dari kesenian menjadi termarginalkan. Emosi yang murni dari para pelakunya menjadi lemah serta rangkain gerak yang dilakukan hanyan dimaksudkan upah yang harus dibayar oleh para wisatawan baik secara langsung atau tidak.

Tetarian dan tetabuhan yang dalam makna asaln

ya hanya diperhelatkan menurut syarat-syarat tertentu, tempat dan suasana, kemudian dilakukan atas pesanan pasar (market order). Konsekuensi dari orientasi komersial ini, lahir upaya-upaya untuk melakukan i

niv

asi – mengubah penampilan fisik – terhadap karya seni lokal sesuai dengan kehendak pasar – pemesan. Akhirnya seni yang lekat dengan tradisi dan budaya masyarakat, kini telah diangkat ke kota-kota atau te

mpat-tempat pertunjukan demi orientasi keuntungan komersial. Uraian diatas menggambarkan bagaimana proses kapitalisasi seni berlangsung yang implikasi yang ditimbulkannya.

Ketika berbagai obyek seni telah dilepaskan dari fungsinya sebagai representasi moral, mitos spiritual, dan berkembang menjadi obyek yang merepresentasikan abnormalitas, kebenaran semu, dan lebih berfungsi sebagai komoditi, maka penggalian dan representasi abnormalitas memang menjadi unsur yang sangat penting, disebabkan mesin keinginan pasar kapitalis yang terus berkembang dan berubah-ubah. Seni dituntut untuk menyuguhkan sesuatu yang baru yang bisa mempr

ovokasi hasrat konsumtif pasar. Untuk memprovokasi hasrat konsumtif pasar, kreator komoditi menggunakan berbagai media baik elektronik maupun massa guna mempengaruhi cara pandang individu-ind

ividu terhadap seni. Media melalui pesan-pesan yang disampaikan, berfungsi sebagai tool of manipulation bagi publik. Khalayak digiring pada suatu sikap konformisme –mengatas namakan identitas bersama- yang menjadi basis legitimasi bagi para pengendali media.

Di sini media komunikasi telah menyuguhkan p

iranti asumsi atau homogenitas kognitif yang sengaja dirancang untuk menggiring massa untuk mengambil sikap tertentu dengan mengatas namakan identitas bersama. Itu bisa dilakukan melalui mpembanjiran informasi dalam berbagai bentuk pemberitaan dan iklan. Tetapi secara prinsip fungsi dari media itu sendiri adalah meneguhkan

suatu pola atau gaya hidup tertentu sesuai dengan kepentingan kapitalisme industri. Pada titik inilah abnormalitas ekspresi karya seni diterima sebagai suatu kewajaran. Seni yang ketika belum tersentuh oleh ekspansi kapitalisme lekat

dengan nilai-nilai estetika, spiritualitas dan mitologi dan kini bergeserfungsinya hanya sebagai komoditi yang harus dikonsumsi, tak lebih dari itu. Lalu bisa

kah kita menjaga otentisitas kesenian bangsa kita ditengah tuntutan krisis k

emlaratan ekonomi yang melilit leher bangsa ?


[i] Tulisan ini terejawantahkan dari diskusi rutinan BEM UYP yang menatap muram keindahan kesenian akibat tuntutan pragmatisme dan kapitalisme global.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s