Pesantren Jawaban Atas Moral, Social And Spiritual Decadences

(Sem

acam telaah dari kegelisahan diri menatap fenomena pendidikan negara ini)[i].

Oleh; Zainul Ahwan Assgia Shobry[ii]

Post modernisme yang sudah terjadi di era sekarang ini dengan ditandai globalisasi yang berimplikasi pada transformasi informasi yang kehadirannya tidak bisa kita tolak dari kehidupan kita mengingat globalisasi tidak mengenal sekat (no boundering) dan bisa diakses kapanpun dan dimanapun (omnipresent) dan siapa pun. Sehingga hal ini menjadikan manusia selalu punya oportunitas seluas-luasnya untuk mengakses berbagai informasi yang mereka butuhkan. Globalisasi memaksa manusia untuk selalu bertindak pada pola kehidupan yang mencerminkan masyarakat modern.

Memang kita bisa pahami bahwasannya globalisasi membawa manfaat yang luar biasa bagi manusia, akan tetapi globalisasi juga tidak kalah dampak negative yang diakibatkannya. Dalam case ini ada beberapa hal yang bisa kita tangkap dari adanya globalisasi dalam sudut pandang sisi negatifnya bagi pola kehidupan bermasyarakat. Adapun hal-hal tersebut antara lain adalah sebagaimana berikut :

Pertama, meneurunnya dimensi social individu dalam masyarakat. globalisasi akan membawa dampak pada pola prilaku individu dalam kehidupan bermasyarakat yang lebih condong pada sikap individualistic-eksklusif, dan mengurangnya rasa social awareness (kepedulian sosial) yang dimilikinya.

Kedua, terciptanya trans-kultur atau univormitas kultur yang mencirikan pola kehidupan bermasyarakat modern. Memang secara generic, orientasi dan distinasi adanya globalisasi bertujuan untuk membentuk manusia untuk bertindak dengnan mengatasnamakan konformitas social yang terbentuk oleh media yang lagi up to date pada saat itu. Sehingga dari situ globalisasi terkesan mendorong kultur peradaban yang terbentuk dari homogenitas kognitif yang mengatas namakan kelaziman umum (common to society).

Homogenitas kognitif yang menggiring manusia untuk selalu bertindak sesuai dengan tuntutan zaman inilah yang sering kali menginterfensi manusia untuk mengikuti hal-hal yang diluar kewajaran kultur local dimana manusia itu berada. set trend yang terbentuk inilah yang harus dianut oleh siapapun dengan konsekwensi kuno/ndesit bagi yang tidak mengikuti perkembangannya. Dalam kontek sosiologi kondisi yang demikian akan membentuk culture leg (ketertinggalan budaya) dan culture shok.(kebingungan budaya)

Cultiure leg sebenarnya terjadi ketika suatu masyarakat tidak mengikuti perkembangan zaman dan masyarakat tersebut cenderung konservatif-rejektif terhadap perubahan sehingga masyarakat ini teralienasi oleh peradaban secara uni-makro. Jadi jangan disalahkan kalau menjumpai masyarakat yang menjadikan hand phone sebagai benda yang di sakralkan dan harus dipuja.

Adapun culture shock terjadi ketika suatu masyarakat yang mempunyai kultur asli (inhabitant culture) kemudian terkontamisasi oleh budaya yang lain dalam hal ini terjadi akulturasi dan masyarakat kebingungan dalam menentukan culturnya antara incoming / urban culture (kultur pendatang) dan common culture (culture aslinya). Misalkan seiring populisnya pakaian yang bermodekan ketat dan bahkan sampai novel-nya (pusarnya) kelihatan menjadi justifikasi set trend yang harus diikuti dan trend yang semacam ini jelas bertentangan dengan norma social bangsa Indonesia yang identik dengan sopan santunnya. Dan ketika seseorang dalam suatu masyarakat yang semacam ini tetap meresistensi dan memproteksi dirinya untuk tetap berjalan normative sesuai dengan budaya asli maka orang tersebut dikatakan sebagai orang yang ketinggalan zaman alias naturalis (ndeso).

Ketiga, menurunnya dimensi moral dan spiritual. Memang benar banyak riset mengatakan akan implikasi dari dialektika kultur dan peradaban yang dimainkan oleh globalisasi di dunia kita saat ini. terbentuknya tipologi masyarakat individualistic-non sosialistik serta terancamnya nilai-nilai moralitas dan terkikisnya dimensi spiritualitas manusia yang semakin hari semakin tergerus dengan arus modernitas zaman kayaknya sudah menunjukkan penampakannya (come tobe the real thing happening).

l;alu pertanyaannya, siapakah yang bisa menjawab the multi case di atas? Ya sudah barang tentu istitusi pendidikanlah yang bisa menjawabnya. Terus apakah semua institusi pendidikan tinggi bisa menjawab multi problem diatas?

Berbicara Pendidikan

Absurditas pendidikan modern dalam pencapaian target orientalnya.

Ukuran keberasilan pendidikan adalah out putnya yakni perilaku nyata seseorangt. Sekarang kita melihat pola pendidikan yeng bebar-benar dari maksud islam. Pendidikan seharusnya dapat menyempurnakan akhlak dan ruhani seseorang. Justru fenomena yang tampak adalah penindasan antar manusia dan merosotnya nilai-nilai moral. Akhirnya kita melihat bahwa tujuan pendiodikan modern adalah tercapainya tujuan-tujuan material. Tujuanitu akhirnya berkembang menjadi rasa cinta terhadap pekerjaan dan produktifitas. Kemudia ia kesampingkan nilai dan moralitas. Kemudia orang hanya berfikir untuk memenuhi kebutuhan materi agar dapat hidup mewah. Kebutuhan keluarga dan masyarakat pun dinilai dengan materri. Betapa banyaknya orang tua yang sudah merasa cukup menunaikan tanggung jawabnya hanya dengan memberikan limpahan kebutuhan materi kepada anak. Dan banyak pula keluarga yang menghargai interaksi sosialnya juga dengan metri belaka.

Kehidupan uyang semacam ini memerlukan cost yang besar. Dan jika mereka tidak menemukan jalan yang halal untuk mengumpul;kan uang maka akan mencuri dengan berbagai variasinya. Demikianlah kepribadiannya dikuasai oleh materi. Oleh karena itu semakin jelas bahwa pendidikan modern selalu dikaitkan dengan materi. Pada akhirnya pendidikanhanyabermanfaat bagi segolongan kecil saja.

Model pendidikan yang semacam ini jelas berbeda dengan pendidikan yang diselenggarakan oleh pondok pesantren baik itu yang masih berhaluan salafi (tradisional) ataupun yang semi trasdisional (konvergensi sistem pendidikan modern dengan sistem pendidikan klasik).

Sistem Pendidikan Pondok Pesantren Dalam Menjawab Persoalan Zaman

Pondok pesantren merupakan institusi pendidikan yang bertipikal salafi (tradisional) namun juga tak jarang kita jumpai pendidikan pondok pesantren yang sudah mengikuti model pendidikan modern guna mengikuti perubahan zaman. Meskipun sudah banyak yang berorientasi pada pendidikan modern akan tetapi nilai-nilai dan kartakter tradisionalistik dan merakyatnya tetap dipegang teguh oleh pondok pesantran. Pondok pesantren Ngalah misalnya, meskipun sudah mengikuti pendidikan modern akan tetapi tipikal aslinya tetap dipertahankan. hal ini senada dengan adagum islami yang mengatakan “al mukha fadhotu alal qhodimissolikh wal akhdu bil jadidil aslah”

Pondok pesanteren memang satu-satunya institusi pendidikan yang selalu mengajarkan ahlakul karimah dalam setiap pola prilaku siswa (santri) setiap harinya. Sudah menjadi hal wajar untuk kita jumpai pada institusi pendidikan ini dalam rangka membangun karakter murid yang mempunyai akhlakul karimah yang tinggi pondok pesantren seringkali membekali muridnya dengan pelajaran-pelajaran yang berorientasi pada pembangunan moral-etic misalnya, pelajaran ta’limul mutaallim, ahlak lil banin dan sebagainya dan sebagainya. yang pada intinya materi-materi ini sebagai bekal nantinya bagi mereka agar bisa hidup bersama masyarakat yang pusparagam dengan bijak dan arif dalam melakukan kontak interaksi social dengan masyarakat yang sebenarnya.

Materi-materi pendidikan yang berorientasi pada penanaman moral dan etika ini secara simplistis tidak hanya berhenti pada pemahaman akan tetapi harus diaktualisasikan secara simultan dalam gerak dan perilaku santri dalam kesehariannya. Dalam berinteraksi dengan gurunya misalnya, murid dituntut untuk selalu menghormati gurunya dengan harapan mendapatkan keikhlasan dari ilmu yang diberikannya. Begitu juga pola prilaku murid (santri) dengan murid yang lainnya yang didasari dengan saling hormat menghormati, bantu membantu antar satu sama lain, serta saling memberikan salam ketika bertemu dan seterusnya dan seterusnya. Itulah sistem pendidikan pondok pesantran…..!

Lembaga pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan intelektualitas akan tetapi pendidikan pesantren juga sebagai pendidikan yang mengedepankan akhlakul karimah (moral-etic educare), mengajarkan nilai-nilai agama dan spiritualitas. (relegionand spirituality educare). juga pendidikan yang mengajarkan nilai-nilai social kemasyarakat. (social educare).


[i] Semacam Artikel ini pernah diangkat dalam majalah MINNA Pon.Pes. Ngalah

[ii] Penulis adalah Presiden Mahasiswa yang masih tidak berdaya dalam menuntuk laku penanya (alias ndak bisa menulis)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s